![]() |
| Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep duduk bersama Benidiktus Papa di upacara pemakaman almarhum, Yulius Papa |
TANA TORAJA - Di Toraja, kehadiran tidak pernah dimaknai sekadar sebagai datang dan pergi. Ia adalah wujud tanggung jawab batin,kesediaan untuk menempuh jarak, meluangkan waktu, dan menanggung lelah demi menghormati sesama, terutama dalam ruang duka. Karena itu, kehadiran selalu berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Kehadiran Kaesang Pangarep di Kondodewata, Kecamatan Mappak, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), untuk mengikuti upacara adat Rambu Solo’ sahabatnya, Benidiktus Papa, menjadi peristiwa kecil yang sarat makna.
Ia datang ke pelosok dengan akses jalan yang ekstrem dan berbahaya. Namun yang paling penting bukanlah jauhnya perjalanan, melainkan alasan ia memilih untuk hadir.
Persahabatan Kaesang dan Beni Papa terajut jauh dari kemewahan. Beni Papa lahir dan besar dari keluarga sederhana di wilayah terpencil Simbuang-Mappak, sebuah daerah yang kerap dilabeli terbelakang dan terpinggirkan. Sementara Kaesang anak dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), sekaligus Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, dan status tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk membangun relasi yang setara. Dalam persahabatan ini, mereka bertemu sebagai manusia, bukan sebagai siapa.
Ketika ayah Beni Papa berpulang dan akan dimakamkan melalui upacara adat Rambu Solo’, Kaesang memutuskan untuk hadir mendampingi sahabatnya.
Bahkan ketika sang sahabat sendiri sempat melarang kehadirannya karena khawatir akan kondisi kampung dan jalanan yang ekstrem, jawaban yang diterima justru sederhana namun penuh makna: “Untuk itulah saya harus datang.”
Dalam kalimat singkat itu tersimpan etika persahabatan yang dalam. Persahabatan sejati tidak berhenti pada saat suka, tetapi menemukan maknanya yang paling jujur dalam duka.
Dalam budaya Toraja, berdiri bersama di saat kehilangan adalah bentuk kesetiaan tertinggi, sebuah tindakan yang tidak bisa digantikan oleh kata-kata atau simbol.
Kesederhanaan yang ditunjukkan Kaesang saat hadir diupacara adat kedukaan sahabatnya yang enggan diperlakukan istimewa, duduk bersila, berbincang hangat dengan masyarakat,bukanlah sikap yang dibuat-buat.
Ia justru memperlihatkan bahwa martabat manusia tidak diukur dari posisi, melainkan dari kerelaan untuk menyamakan diri dengan yang lain. Di hadapan duka dan adat, semua orang berdiri sejajar.
Catatan dari pelosok Toraja ini ingin menyampaikan satu pesan sederhana namun penting: di tengah dunia yang semakin gemar membangun jarak melalui status dan kuasa, kehadiran yang tulus, kesederhanaan sikap, dan kesetiaan dalam persahabatan tetap menjadi nilai yang relevan dan dibutuhkan.
Karena pada akhirnya, baik dalam adat Toraja maupun dalam kehidupan manusia, yang akan dikenang bukan seberapa tinggi kita berdiri, melainkan siapa yang kita temani ketika jalan hidup menjadi terjal.
Pada akhirnya, kisah ini tidak sedang berbicara tentang siapa yang datang, melainkan mengapa seseorang memilih untuk hadir. Dari pelosok Simbuang–Mappak, kita diingatkan bahwa nilai kemanusiaan sering justru terjaga paling utuh di tempat-tempat yang jauh dari sorotan.
Di sana, di jalan tanah yang terjal dan di ruang duka yang sunyi, persahabatan diuji bukan oleh kata-kata, tetapi oleh langkah kaki. Kesederhanaan bukan lagi sekadar sikap, melainkan pilihan sadar untuk berdiri sejajar dengan sesama. Dan kehadiran menjadi doa yang hidup,diam, tetapi bermakna.
Mungkin inilah pelajaran kecil dari Tanah Toraja untuk kita semua: bahwa di tengah dunia yang sibuk mengejar posisi dan pengakuan, kesediaan untuk hadir dengan tulus masih menjadi bentuk keberanian yang paling langka. Sebab tidak semua orang sanggup menempuh jalan sulit demi menemani sesamanya.
Dan ketika kelak hidup mempertemukan kita dengan duka, baik duka orang lain maupun duka kita sendiri, barangkali yang paling kita rindukan bukanlah mereka yang banyak bicara, melainkan mereka yang memilih datang dan tinggal.
Pemerhati Toraja, Fransiskus Allo.


