Iklan

Klaim Bittuang Rawan Longsor, Warga Toraja Bentuk Aliansi Tolak Geothermal

Ricdwan Abbas Bandaso'
Selasa, 27 Januari 2026, Januari 27, 2026 WIB Last Updated 2026-01-29T14:16:25Z
Pertemuan Aliansi Masyarakat Toraja Tolak Geothermal

TANA TORAJA - Warga Tana Toraja (Tator), Sulawesi Selatan (Sulsel), bentuk aliansi penolakan rencana eksplorasi panas bumi atau geothermal di Lembang Balla, Bittuang. Masyarakat takut dampak ekologis karena daerah itu diklaim rawan longsor.


"Yang paling kami takutkan kalau ada kelalaian, apalagi ini sangat dekat dengan pemukiman. Bittuang ini daerah rawan longsor, pegunungan, tanahnya labil," ujar tokoh masyarakat Bittuang, Markus Raya Rada kepada wartawan usai pertemuan, Selasa (27/1/2026).


"Maka hari ini masyarakat yang ada di Buttuang dan sang Torayan mengadakan kombongan untuk menyatakan sikap penolakan," tambahnya.


Markus mengungkap, gugatan penolakan telah dilayangkan Masyarakat Adat Balla ke Kementerian ESDM. Tanpa pemberitahuan, proyek strategis nasional (PSN) itu kembali ditender ulang.


Berdasarkan Wilayah Survey dan Eksplorasi Panas Bumi (WPSPE), luas cakupannya sekitar 80 persen. Artinya, hampir seluruh daerah Bittuang masuk dalam kawasan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi.


"Yang lebih kaget lagi, sudah ditender tanpa sepengetahuan masyarakat adat Bittuang, WPSPE nya sampai 12.979 Hektare. Kita ketahui bahwa wilayah Bittuang kurang lebih 16.000 hektare. Kalau dipersentasekan, berarti 80 persen yang ada dalam WPSPE geothermal," kata Markus.


"Di tahun 2021 pernah ada penolakan, itupun masih dilakukan Kementerian ESDM, belum investor, ini malah investor sudah masuk, sudah dilelang daerah ini," ujarnya.


Lanjut kata mantan Kepala Lembang Balla itu, proyek geothermal akan merampas dan merusak ruang hidup masyarakat adat Toraja serta mengakibatkan dampak sosial.


"Yang jelas semua masyarakat Bittuang akan terdampak, situs-situs budaya akan rusak karena yang dilalui adalah tanah adat, bisa jadi besok tongkonan kita yang kena. Ini juga akan menimbulkan dampak sosial, mungkin bukan masyarakat dengan pemerintah, tapi masyarakat dengan masyarakat," ujarnya.


Dampak ekologis lainnya menurut dia, ketersediaan air bersih akan terbatas serta pencemaran lingkungan. Karena itu dia mengajak semua kalangan turut menolak ekplorasi panas bumi di Bittuang.


"Sangat banyak kerugian kita jika geothermal masuk di Toraja, makanya penolakan terus kita gaungkan, baik pemuda, masyarakat, adat, mahasiswa dan kita semua," ujarnya.

Komentar

Tampilkan

Terkini