![]() |
| Profesor Russan Rangan (kiri) dan Anugrah Yaya Rundupadang (kanan) terpilih sebagai ketua dan wakil ketua DPC PIKI Toraja Utara |
TORAJA UTARA - Prof Parea Russan Rangan dan Anugrah Yaya Rundupadang terpilih menjadi Ketua-Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Cabang Toraja Utara periode 2026-2031.
Mereka terpilih secara aklamasi dalam konferensi cabang (Konfercab) PIKI Toraja Utara yang berlangsung di ruang rapat Tongkonan Sangulele BPS Gereja Toraja, Rantepao, Sulawesi Selatan, Rabu (28/1/2026).
Forum 5 tahunan itu dipimpin sekretaris DPD PIKI Sulsel, Yoel Bello. Kegiatan turut dihadiri akademisi, politisi, aktivis gereja yakni Ketua Umum PPGT, Ketua GAMKI Toraja Utara, dan Ketua GMKI Cabang Toraja.
"Terpilihnya Prof Russan Rangan dan Yaya Rundupadang diharapkan mampu memperkuat peran inteligensia Kristen dalam memberikan kontribusi nyata bagi gereja, masyarakat, dan pembangunan daerah," ujar Yoel.
Dia juga mengingatkan pengurus terpilih serta kader PIKI Toraja Utara senantiasa aktif merespons berbagai tantangan sosial kebangsaan.
Sementara Prof Parea Russan Rangan dalam sambutannya menyatakan keinginannya menjadikan PIKI sebagai ruang kolaborasi yang terbuka dan inklusif bagi para akademisi serta aktivis gereja.
"Saya tidak dapat berdiri sendiri. Mari kita gotong royong, bersama-sama membesarkan organisasi ini untuk mewujudkan PIKI sebagai wadah pemikiran strategis yang mampu menghadirkan gagasan-gagasan konstruktif, khususnya dalam penguatan nilai keimanan, kebangsaan, dan keadaban publik di Toraja Utara.," ujarnya.
Senada, Yaya menuturkan bahwa PIKI adalah organisasi pemikir. Karena itu, diharapkan keterlibatan aktivis dan akademisi gereja agar menghasilkan gagasan-gagasan untuk kemajuan masyarakat dan daerah.
"PIKI Toraja Utara harus bisa ikut membangun gereja dan masyarakat, aktif berdiskusi membahas isu-isu dan fenomena, mencari kebenaran sekaligus mempraktikkannya. Dengan begitu, gereja akan mengalami transformasi sosial, budaya, dan ekonomi,” ujarnya.
Yaya mengungkap, ada 3 momentum yang perlu dirumuskan para intelektual PIKI 5 tahun ke depan, yakni:
- Membangun kesadaran warga gereja melalui semangat protestanisme, yang tercermin dalam ajaran calling (panggilan), doktrin predestinasi, dan asketisme duniawi.
- Membangun keterampilan dan profesionalisme. Setiap warga gereja diharapkan memiliki minimal satu keterampilan agar mampu bersaing di era kompetitif.
- Membangun kewirausahaan. Mentalitas wirausaha perlu dikembangkan, termasuk membuka usaha yang berbasis pasar, memanfaatkan potensi lokal, mendorong UKM untuk go digital, serta memperkuat kelembagaan ekonomi gereja.
"Kami berharap ketiga hal ini dapat dirumuskan, dibuat strateginya, dan menjadi program prioritas ke depan," kata Yaya.


