DATATERKINI.ID, TANA TORAJA-
Politik itu ibarat cinta. Indah di awal, penuh janji, namun sering kali berakhir dengan luka. Keduanya lahir dari harapan dan kepercayaan. Dalam politik, seperti halnya dalam cinta, kita menaruh keyakinan pada seseorang yang kita anggap mampu membawa perubahan, memberi kebahagiaan, atau memperbaiki keadaan. Namun, sebagaimana cinta yang terlalu dalam tanpa cadangan logika bisa menjerumuskan, politik yang dijalani tanpa ruang untuk kecewa hanya akan melahirkan kekecewaan yang lebih besar.
Ruang kosong untuk kecewa itu penting bukan untuk pesimisme, melainkan sebagai pagar kewarasan. Sebab dalam politik, tidak ada yang abadi. Kawan hari ini bisa jadi lawan esok hari, dan lawan yang dulu dibenci bisa menjadi sekutu baru. Prinsip dan kepentingan sering kali berdansa dalam irama yang sama, berganti posisi sesuai arah angin kekuasaan.
Masalahnya, banyak orang mencintai politik dengan buta, menuhankan figur, dan menolak melihat bahwa politik sejatinya adalah panggung kepentingan, bukan altar pengabdian suci. Saat yang dicintai berkhianat, kecewa pun berubah menjadi dendam. Padahal, politik yang dewasa tidak berhenti pada rasa sakit - ia belajar, berjarak, dan tetap sadar bahwa permainan ini tidak pernah dimenangkan oleh mereka yang larut dalam emosi.
Maka, mencintai politik seharusnya seperti mencintai dengan akal sehat. Percaya, tapi tetap waspada. Mendukung, tapi tetap kritis. Karena politik, seperti cinta, adalah tentang bagaimana kita menjaga hati agar tidak buta dan tetap siap menerima bahwa yang hari ini menjanjikan surga, bisa saja esok membuka pintu neraka.
Sebab sekali lagi, dalam politik tidak ada yang abadi - yang abadi hanyalah kepentingan. Dan di situlah letak ujian kedewasaan kita sebagai rakyat, apakah kita masih sanggup mencintai negeri ini, bahkan ketika para pemimpinnya silih berganti mengecewakan?.(AL)