DATATERKINI.ID, TANA TORAJA— Di saat listrik menjadi kebutuhan dasar yang tak terpisahkan dari kehidupan modern, ironisnya masih ada wilayah di negeri ini yang bertahan dengan pelita sebagai penerangan rumah. Kondisi itu dialami warga Lembang Sangpepparikan, Kecamatan Mappak, yang hingga kini belum tersentuh jaringan listrik PLN.
Selama bertahun-tahun, warga hanya mengandalkan PLTA jenis kincir sederhana sebagai sumber penerangan. Namun sistem ini jauh dari kata andal. “Kadang menyala, kadang mati. Kalau turbin tidak jalan, terpaksa kami pakai pelita,” ujar salah satu warga setempat dengan nada getir.
Harapan sempat muncul ketika PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dibangun di wilayah tersebut. Sayangnya, harapan itu kembali padam. Menurut pengakuan warga, PLTS tersebut sudah berbulan-bulan tidak berfungsi, tanpa kejelasan perbaikan maupun perhatian lanjutan dari pihak terkait. Akibatnya, malam hari kembali menjadi ruang gelap yang mengekang aktivitas dan kehidupan warga.
Keterisolasian wilayah ini tidak hanya soal listrik. Akses jalan pun baru benar-benar terbuka pada 8 Desember 2024, itu pun bukan karena proyek pemerintah. Jalan baru bisa ditembus kendaraan jenis hartop setelah pihak gereja turun tangan membuka akses menggunakan alat berat, dengan biaya bahan bakar yang dikumpulkan secara swadaya.
“Mobil baru bisa masuk baru-baru ini. Padahal kami juga warga negara. Kami juga berhak merasakan pembangunan,” ungkap warga lainnya.
Fakta ini menjadi potret telanjang ketimpangan pembangunan. Di satu sisi, negara berbicara tentang transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan, namun di sisi lain masih ada warga yang hidup dalam gelap—secara harfiah.
Warga Lembang Sangpepparikan kini hanya menyampaikan satu harapan sederhana namun mendasar: **dijangkau listrik PLN**, agar mereka tidak lagi bergantung pada pelita dan sistem seadanya. Sebab terang bukan sekadar cahaya, tetapi simbol kehadiran negara dan keadilan pembangunan.
Jika listrik saja belum hadir, lalu di mana posisi daerah terpencil seperti Sangpepparikan dalam peta pembangunan nasional? Pertanyaan ini layak dijawab, bukan dengan janji, tetapi dengan tindakan nyata. (Red)


