• Jelajahi

    Copyright © Dataterkini.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Opini: Jika Kita Gagal Tahu Diri, Toraja yang Runtuh

    Rabu, 18 Maret 2026, Maret 18, 2026 WIB Last Updated 2026-03-18T18:09:43Z




    Oleh : Demianus Tonglo Arruan

    TANA TORAJA - Toraja hari ini ibarat berdiri di persimpangan sunyi namun genting: semua pihak bergerak, tetapi tidak selalu dalam arah yang semestinya. Di tengah dinamika sosial, budaya, dan pembangunan yang terus berubah, kita justru terjebak dalam kekacauan peran, sebuah kondisi yang perlahan menggerus fondasi kolektif yang selama ini kita banggakan.


    Idealnya, setiap elemen menyadari dan setia pada tupoksinya. Dan pemerintah, semestinya fokus merumuskan arah kebijakan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat, bukan terseret dalam polemik yang bukan ranahnya. Aparat penegak hukum hadir untuk menjamin keamanan dan ketertiban, menindak tegas aktivitas yang jelas bertentangan dengan hukum, bukan sibuk merespons tekanan opini tanpa pijakan yang objektif. Sementara itu, tokoh agama seharusnya berdiri di garis depan pembinaan iman, menyuarakan suara kenabian yang menyejukkan dan menuntun, bukan larut dalam peran yang justru menjauhkan mereka dari panggilan moral.


    Demikian pula tokoh adat, yang memikul tanggung jawab menjaga marwah budaya. Mereka bukan sekadar simbol, tetapi penjaga nilai. Dalam arus modernisasi, yang dibutuhkan bukanlah budaya yang dibuat-buat demi panggung, melainkan keteguhan untuk berdiri di atas warisan leluhur yang otentik dan bermakna.


    Masalahnya, ketika batas-batas ini kabur, yang lahir adalah tumpang tindih peran dan konflik kepentingan. Tokoh agama berbicara seperti aparat hukum, aparat hukum terseret dalam tekanan moral yang seharusnya diartikulasikan oleh pemuka agama, pemerintah masuk ke ranah yang seharusnya menjadi ruang adat semuanya bercampur tanpa arah yang jelas. Ini bukan sinergi, ini disorientasi.


    Padahal, kearifan lokal Toraja telah lama memberi kita pedoman: filosofi “kepemimpinan Tallu Batu Lalikan.” Sebuah prinsip yang menekankan keseimbangan peran dan kolaborasi lintas sektor. Ketika persoalan bersifat kompleks dan lintas bidang, maka jalan keluar bukanlah saling mengambil alih peran, melainkan duduk bersama, berdialog, dan merumuskan solusi secara kolektif.


    Toraja tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan tokoh, tidak kekurangan nilai. Yang kita kekurangan hari ini adalah kesadaran diri dan kerendahan hati untuk tetap berada pada jalur masing-masing, sekaligus membuka ruang kerja sama yang sehat.


    Kita perlu jujur pada diri sendiri: jika orang Toraja terus bertengkar, saling menegasikan, dan mempertahankan ego sektoral, maka kehancuran itu bukan datang dari luar. Ia lahir dari dalam dari ketidakmampuan kita mengelola perbedaan dan menempatkan diri secara proporsional.


    Sudah saatnya kita melepaskan sifat egosentris yang sempit. Mari kembali pada esensi: bekerja sesuai tupoksi, saling menghormati batas peran, dan ketika dibutuhkan, bersatu dalam semangat kolegial-kolektif.


    Toraja hanya akan kuat jika dibangun bersama. Dan kebersamaan itu hanya mungkin jika setiap kita tahu diri, tahu batas, dan tahu untuk apa kita berdiri.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini