![]() |
| Logo PMKRI Cabang Toraja |
PANDANGAN UMUM PMKRI CABANG TORAJA
"Meneguhkan Kembali Jati Diri PMKRI sebagai Gerakan Intelektual, Kaderisasi, dan Perjuangan Rakyat"
Shalom
Salam Sejahretah.
Religio Omnium Scientiarum Anima.
Pro Ecclesia et Patria.
Pimpinan Sidang Yang kami hormati, serta Forum MPA yang kami Seegani
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus Sang Teladan Gerakan, karena atas penyelenggaraan-Nya kita dipertemukan kembali dalam Forum Majelis Permusyawaratan Anggota PMKRI Santo Thomas Aquinas. Forum ini bukan sekadar agenda konstitusional dua tahunan, melainkan forum tertinggi organisasi yang menentukan arah, wajah, dan masa depan Perhimpunan.
Karena itu, kita tidak boleh hadir hanya untuk memilih pemimpin baru. Kita harus hadir dengan keberanian melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan organisasi, mengoreksi setiap penyimpangan, memperkuat kembali fondasi perjuangan, serta menyusun arah gerak PMKRI yang lebih relevan terhadap tantangan zaman.
PMKRI Cabang Toraja memandang bahwa hari ini PMKRI sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. Tantangan tersebut bukan semata-mata datang dari perubahan sosial, politik, dan ekonomi bangsa, melainkan juga lahir dari dinamika internal organisasi yang apabila terus dibiarkan akan menggerus jati diri PMKRI sebagai organisasi kader, organisasi intelektual, dan organisasi perjuangan.
Izinkan kami menyampaikan sebuah kegelisahan yang lahir bukan karena kebencian, melainkan karena kecintaan terhadap PMKRI.
Harus kita akui dengan jujur bahwa beberapa tahun terakhir PMKRI mulai mengalami krisis nilai. Sedikit demi sedikit kita kehilangan roh perjuangan yang selama ini diwariskan oleh para pendiri Perhimpunan. Nilai-nilai dasar PMKRI semakin sering dikutip dalam pidato, tetapi semakin jarang diwujudkan dalam praktik kehidupan organisasi.
Fenomena ini tampak dari menurunnya kualitas kaderisasi di berbagai tingkatan. Proses kaderisasi yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, intelektualitas, spiritualitas, dan keberpihakan kepada kaum kecil, dalam banyak kesempatan justru lebih berorientasi pada pemenuhan aspek administratif. Akibatnya, organisasi berisiko kehilangan kader-kader yang memiliki keberanian moral, daya kritis, dan integritas untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Lebih dari itu, kami melihat bahwa konstitusi organisasi yang seharusnya menjadi pedoman tertinggi dalam setiap pengambilan keputusan, perlahan kehilangan wibawanya. Konstitusi kerap diperlakukan hanya sebagai dokumen formalitas; indah tertulis di atas kertas, namun tidak lagi menjadi rujukan utama dalam praktik berorganisasi.
Kita bahkan menyaksikan, dan mungkin sebagian dari kita pernah menjadi bagian darinya, bagaimana aturan organisasi dilanggar secara terang-terangan demi melanggengkan kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok. Penafsiran terhadap konstitusi tidak lagi didasarkan pada semangat keadilan organisasi, melainkan disesuaikan dengan siapa yang diuntungkan.
Keadaan seperti ini tidak boleh terus dinormalisasi. Sebab ketika kepentingan ditempatkan di atas konstitusi, sesungguhnya kita sedang mengikis marwah PMKRI sebagai organisasi kader. Organisasi sebesar PMKRI tidak boleh dibangun di atas kompromi kepentingan, tetapi harus berdiri tegak di atas konstitusi, nilai, dan integritas.
Forum MPA Yang Mulia memiliki tanggung jawab untuk mengoreksi keadaan tersebut. MPA bukan sekadar ruang pengambilan keputusan administratif, melainkan ruang refleksi kolektif untuk memastikan bahwa arah perjalanan organisasi tetap berada pada rel perjuangan yang benar.
Kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: apakah keputusan-keputusan yang kita ambil sungguh-sungguh lahir demi kepentingan Perhimpunan, atau justru demi kemenangan kelompok tertentu? Apakah kita masih menempatkan konstitusi sebagai panglima organisasi, atau telah membiarkan kepentingan menjadi pengendali arah PMKRI?
Selain persoalan internal tersebut, PMKRI juga menghadapi tantangan eksternal yang tidak kalah besar. Ketika korupsi masih merajalela, ketimpangan sosial semakin tajam, kerusakan lingkungan terus berlangsung, demokrasi mengalami kemunduran, ruang kebebasan sipil menghadapi berbagai ancaman, pendidikan semakin sulit dijangkau, serta kesejahteraan rakyat masih menjadi persoalan mendasar, PMKRI tidak boleh kehilangan keberanian untuk hadir sebagai kekuatan moral.
Diam bukanlah pilihan bagi organisasi perjuangan. PMKRI harus kembali menjadi suara kritis yang berpihak kepada kebenaran, keadilan, dan kepentingan rakyat. Independensi organisasi harus ditegaskan kembali. PMKRI tidak boleh menjadi kendaraan politik praktis, tidak boleh menjadi alat kepentingan kelompok tertentu, dan tidak boleh kehilangan kebebasan moral dalam menyampaikan kritik kepada siapa pun yang menyimpang dari nilai-nilai keadilan.
Di sisi lain, kami juga memandang perlunya reformasi tata kelola organisasi secara menyeluruh. Transparansi, akuntabilitas, keterbukaan informasi, serta evaluasi berkala harus menjadi budaya organisasi. Pengurus Pusat harus membangun mekanisme pertanggungjawaban yang terbuka kepada seluruh cabang sebagai bentuk penghormatan terhadap demokrasi internal.
Hubungan antara Pengurus Pusat dan cabang juga harus dibangun secara lebih partisipatif. Cabang bukan sekadar pelaksana program pusat, melainkan pemilik sah organisasi yang memiliki hak konstitusional untuk menentukan arah kebijakan PMKRI. Aspirasi cabang harus menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan strategis.
Bagi kami, regenerasi kepemimpinan tidak cukup dimaknai sebagai pergantian figur. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, keberanian moral, kemampuan manajerial, serta kerendahan hati untuk mendengar seluruh cabang tanpa membedakan besar ataupun kecilnya pengaruh politik masing-masing.
Saudara-saudari kader PMKRI se-Indonesia,
Sejarah akan mencatat apa yang kita putuskan dalam forum yang mulia ini. Arah gerak PMKRI dua tahun ke depan sangat bergantung pada keberanian kita hari ini. Jika kita memilih menegakkan konstitusi, maka kita sedang menyelamatkan masa depan organisasi. Namun apabila kita membiarkan pelanggaran terus berlangsung atas nama kompromi dan kepentingan sesaat, maka sesungguhnya kita sedang mewariskan krisis yang lebih besar kepada generasi kader berikutnya.
Karena itu, kami mengajak seluruh kader PMKRI, terkhusus Forum MPA Yang Mulia, menjadikan momentum ini sebagai titik balik kebangkitan Perhimpunan. Mari kita kembalikan konstitusi pada kedudukannya sebagai pedoman tertinggi organisasi. Mari kita letakkan kepentingan Perhimpunan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Mari kita buktikan bahwa PMKRI masih memiliki keberanian untuk mengoreksi dirinya sendiri sebelum mengoreksi bangsa.
PMKRI hanya akan tetap besar apabila nilai, integritas, dan konstitusi tetap menjadi fondasi perjuangan. Sebab organisasi yang kehilangan nilai akan kehilangan arah, dan organisasi yang mengabaikan konstitusi pada akhirnya akan kehilangan legitimasi moral di hadapan kader, Gereja, bangsa, dan masyarakat.
Akhirnya, marilah kita menjadikan Kongres dan MPA ini sebagai momentum kebangkitan PMKRI yang lebih progresif, lebih demokratis, lebih kritis, lebih berintegritas, dan semakin berpihak kepada Gereja, bangsa, negara, serta kaum kecil yang selama ini menjadi orientasi perjuangan Perhimpunan.
Demikian Pandangan Umum PMKRI Cabang Toraja
Religio Omnium Scientiarum Anima.
Pro Ecclesia et Patria.
(Red)


