![]() |
| foto: saat diskusi berlangsung |
DATATERKINI, TANA TORAJA – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Toraja menggelar diskusi tematik bertajuk “Mitigasi Hegemoni Penyakit Sosial” di Margasiswa, Sabtu (21/3). Kegiatan ini menjadi respons atas meningkatnya praktik penyakit sosial, khususnya perjudian, yang dinilai kian mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Diskusi menghadirkan praktisi hukum, Piter Ponda Barani, SH., MH., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pendekatan konvensional berupa penindakan semata tidak lagi cukup untuk menghadapi persoalan yang telah berkembang menjadi dominasi sistemik atau “hegemoni sosial”.
Bang Pit sapaan akrab Piter Ponda barani menilai, pemberantasan penyakit sosial membutuhkan transformasi paradigma, dari sekadar tindakan represif menuju langkah mitigasi yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Ia menguraikan tiga langkah utama yang perlu ditempuh, yakni:
* Mengidentifikasi akar persoalan guna memutus rantai penyebaran sejak dari hulu;
* Memperkuat penegakan aturan normatif secara tegas dan terukur;
* Mengedepankan pendekatan kultural dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya sebagai benteng moral masyarakat.
“Dengan pemberlakuan aturan normatif yang dibarengi pendekatan kultural, persoalan ini dapat diselesaikan secara bertahap namun menyentuh akar masalah,” ujar Bang Pit
Ketua PMKRI Cabang Toraja, Imanuel, menekankan bahwa kompleksitas penyakit sosial tidak dapat ditangani secara parsial. Ia mendorong adanya kolaborasi lintas sektor sebagai langkah strategis.
Menurutnya, pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh adat, hingga masyarakat harus bergerak dalam satu arah yang sama, tanpa terjebak pada ego sektoral.
“Persoalan ini adalah tanggung jawab kolektif. Semua elemen harus duduk bersama dan bersinergi demi menyelamatkan tatanan sosial,” tegasnya.
Diskusi ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum akademik semata, melainkan menjadi pijakan awal dalam mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih humanis, kontekstual, dan efektif dalam menekan laju penyakit sosial di Toraja.
Upaya mitigasi berbasis kultural dinilai sebagai jalan tengah yang tidak hanya menindak, tetapi juga membangun kesadaran kolektif demi menjaga integritas sosial masyarakat secara berkelanjutan.(Alvin)






