![]() |
| Ilustrasi menyemarakkan HUT RI |
DATATERKINI, TANA TORAJA – Rencana tidak diselenggarakannya kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Mappak menuai kritik dari kalangan pemuda setempat. Mereka menilai keputusan tersebut mengabaikan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari semangat kebersamaan masyarakat.
Salah satu pemuda Kecamatan Mappak, Tio, mengatakan bahwa semarak peringatan 17 Agustus telah menjadi tradisi yang terus dijaga dari tahun ke tahun. Menurutnya, setiap pergantian kepemimpinan seharusnya tidak menghilangkan nilai-nilai yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
"Memeriahkan 17 Agustus sudah menjadi tradisi di Kecamatan Mappak sejak lama. Sangat disayangkan jika di masa camat yang baru justru kegiatan itu tidak lagi dilaksanakan. Seorang pemimpin seharusnya memahami sejarah dan kebiasaan masyarakat yang dipimpinnya," ujar Tio, Senin (3/7/2026).
Ia juga mengkritik pola kepemimpinan Camat Mappak yang dinilai kurang hadir di wilayah kerjanya. Menurutnya, camat lebih sering berada di Makale dibandingkan di Kecamatan Mappak, sehingga dikhawatirkan kurang memahami kondisi dan aspirasi masyarakat secara langsung.
"Wilayah kerja seorang camat adalah kecamatan yang dipimpinnya. Kalau lebih banyak berada di luar wilayah, tentu akan sulit membaca kebutuhan masyarakat secara utuh. Kepemimpinan harus dibangun dengan kehadiran, bukan hanya administrasi," katanya.
Terkait kemungkinan alasan efisiensi anggaran sebagai penyebab tidak dilaksanakannya kegiatan, Tio menilai alasan tersebut kurang tepat. Ia menyebut bahwa selama ini pelaksanaan semarak 17 Agustus juga ditopang oleh partisipasi masyarakat dan kontribusi dari setiap lembang, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.
"Kalau alasannya efisiensi anggaran, saya pikir itu tidak logis. Selama ini kontribusi peserta dari setiap lembang sudah cukup membantu pelaksanaan kegiatan. Masyarakat juga tidak pernah menuntut perayaan yang mewah. Yang terpenting adalah semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan," ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kecamatan Mappak dapat mempertimbangkan kembali keputusan tersebut dan membuka ruang dialog dengan masyarakat agar tradisi peringatan Hari Kemerdekaan tetap terlaksana.
"Efisiensi jangan membuat kita miskin ide. Dengan kreativitas dan gotong royong, semarak 17 Agustus tetap bisa dilaksanakan tanpa harus membebani anggaran secara berlebihan. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk merawat semangat nasionalisme di tengah masyarakat," tutupnya.(red)


