![]() |
| foto: pamflet nobar & diskusi |
DATATERKINI, TANA TORAJA — Gelombang penolakan terhadap proyek panas bumi (geothermal) kembali menguat. Aliansi masyarakat Toraja menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik bertajuk “Bahaya Industri Panas Bumi (Geothermal)” yang akan berlangsung di Bittuang pada 25 Maret 2025 pukul 17.00 WITA.
Kegiatan ini mengangkat pemutaran film dokumenter “Air Mata Air”, sebuah karya yang menggambarkan pertaruhan antara keberlanjutan sumber air dan dampak eksploitasi industri. Dengan tagline #SaveMataAirSethulu, acara ini tidak sekadar hiburan, tetapi menjadi ruang refleksi kritis bagi masyarakat.
Sejumlah narasumber dari berbagai daerah terdampak geothermal turut dihadirkan, di antaranya warga dari Mataloko, Sorik Merapi, Dieng, Ciremai, hingga Bittuang sendiri. Mereka akan membagikan pengalaman langsung terkait dampak lingkungan dan sosial yang dirasakan di wilayah masing-masing.
Isu utama yang diangkat adalah kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kerusakan sumber mata air, degradasi lingkungan, serta ancaman terhadap ruang hidup masyarakat lokal. Bagi warga, tanah bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan keberlanjutan budaya.
“Bittuang bukan tanah kosong” menjadi pesan kuat yang digaungkan dalam pamflet kegiatan ini sebuah penegasan bahwa wilayah tersebut memiliki nilai historis, ekologis, dan kultural yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kegiatan ini diprediksi akan menarik perhatian publik luas, terutama generasi muda dan pegiat lingkungan, di tengah meningkatnya perdebatan antara kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan.
Apakah geothermal benar-benar solusi energi masa depan, atau justru ancaman baru bagi masyarakat lokal? Diskusi ini mencoba menjawabnya, langsung dari suara mereka yang terdampak.
Penulis : Alvin






